Tuesday, 27 July 2010

SEDULUR PAPAT LIMO PANCER




SEJATINING MENUNGSO
SEDULUR PAPAT LIMO PANCER
Mengenai KALIMOSODO, saya pernah mendengar itu sebenarnya bahasa halus dari KALIMAH SYAHADAT, ini pernah saya baca di buku sejarah pewayangan dan para wali songo. Mengenai DULUR PAPAT KELIMA PANCER, menurut pendapat dan pengalaman saya secara pribadi dan berguryu di daerah jawa timur, itu adalah 4 unsur yaitu API,TANAH,AIR dan ANGIN atau DULUR PAPAT(empat saudara kita) dan ke5 adalah CAHAYA( NUR) atau ROH, jadi secara tubuh adalah sedulur papat dan secara bathin adalah pancer atau roh dengan unsur cahaya.
bahwa Kalimasada sudah ada sebelum kalimah syahadat dengan bahasa Jamus Kalimasada yang selama masa itu dipegang oleh Kiai Semar (menurut kisah pewayangan). Sedangkan Kalimah Syahadat yang dimaksudkan oleh mas Aries adalah suatu cara yang digunakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga dalam menyampaikan misi da’wah Islamiyah dimana pada masa itu beliau melihat bahwa dengan pewayangan (hiburan) mungkin mudah untuk bisa mengerti tentang Islam. Dan masing-masing anggota Walisongo mempunyai cara yang berbeda dalam menyampaikan da’wah ini. Dilihat dari urut kisah yang ada, Kalimasada adalah 5 cara yang bisa ditempuh untuk menyembuhkan penyakit hati (iri, dengki, sombong dll) …. Mungkin pada kadang Gantharwa lebih paham mengenai ini. Sedangkan makna ‘Sedulur Papat Kalimo Pancer’ adalah watak/karakter yang dimunculkan dalam kisah pewayangan dimana Kiai Semar sebagai lingkaran cahaya yang kemudian memecah menjadi 3 bagian (4 bagian termasuk Semar). 3 bagian inilah yang digunakan nama : Gareng, Petruk dan Bagong yang untuk selanjutnya disebut ‘Punakawan’ (pembantu, bukan seperti pembantu rumah tangga loch ya … tapi selalu membantu memberikan saran masukan yang bersifat positif kepada Prabu Kreshna) dimana ketiga bagian ini memiliki watak dan karakter yang berbeda-beda tetapi tetap mendukung ‘Kalimo’ nya. Jadi ‘Sedulur Papat’ adalah para Punakawan ini dan yang ke-5 nya adalah diri Prabu Kreshna dimana dalam hakikatnya Prabu Kreshna ini adalah Ruh manusia yang ditiupkan oleh Allah SWT. Sedangkan yang 4 sifat adalah sifat unsur pendukung yang dimasukkan oleh Allah (Air dan tanah adalah bagian dari Lumpur hitam yang bau (2 unsur), unsur Cahaya (penciptaan malaikat) – 1 unsur dan 1 unsur sisanya adalah Api (penciptaan Jin dan Iblis). Jadi keempat unsur inilah yang dilambangkan oleh para Punakawan ini. Oleh karena itu “manusia akan lebih tinggi derajatnya daripada malaikat jika mampu menundukkan hawa nafsunya (unsure API) dan akan lebih rendah daripada Iblis jika hawa nafsunya menguasainya”.
Perjalanan Mencari Yang Haq Ada dua jalan yang ditempuh orang dalam mencari yang haq dengan masing-masing dalilnya : 1. Man `arafa nafsahu faqad `arafa rabbahu Barang siapa mengenal dirinya maka pasti dia akan kenal Tuhannya. (Dalil ini yang sangat populer dikalangan sufi, meditator , filosof, teolog) 2. Man `arafa rabbahu faqad `arafa nafsahu Barang siapa yang kenal Tuhannya pasti dia akan kenal dirinya. Pada jalan Pertama, biasanya di lakukan oleh para PENCARI MURNI, mereka belum memiliki panduan tentang tuhan dengan jelas. Dia hanya berfikir dari yang sangat sederhana …yaitu ketika ia melihat sebuah alam tergelar, muncul pemikiran pasti ada yang membuatnya atau ada yang berkuasa dibalik alam ini, … mustahil alam ini ada begitu saja … dan alam merupakan jejak-jejak penciptanya … Dengan filsafat inilah orang akhirnya menemukan kesimpulan bahwa Tuhan itu ada. Sebagian meditator atau ahli sufi menggunakan pendekatan filsafat ini dalam mencari Tuhan, yaitu tahapan mengenal diri dari segi wilayah-wilayah alam pada dirinya, misalnya mengenali hatinya dan suasananya, pikiran, perasaannya, dan lain-lain sehingga dia bisa membedakan dari mana intuisi itu muncul, … apakah dari fikirannya, dari perasaannya, atau dari luar dirinya… Akan tetapi penggunaan jalur seperti ini sering kali membuat orang mudah tersesat, karena pada tahapan-tahapan wilayah ini manusia sering terjebak pada ‘kegaiban’ yang dia lihat dalam perjalanannya, … yang kadang-kadang membuat hatinya tertarik dan berhenti sampai disini, karena kalau tidak mempunyai tujuan yang kuat kepada Allah pastilah orang itu menghentikan perjalanannya …. Karena disana dia bisa melihat fenomena / keajaiban alam-alam dan mampu melihat dengan Kasyaf apa yang tersembunyi pada alam ini … akhirnya mudah muncul ‘keakuannya’ bahwa dirinyalah yang paling hebat …akan tetapi jika dia kuat terhadap Tuhan adalah tujuannya, pastilah dia selamat sampai tujuannya….. Teori yang dilakukan tersebut adalah jalan terbalik, karena dalam pencariannya ia telusuri jejak atau tanda-tanda yang ditinggalkannya (melalui ciptaan / alam), … ibarat seseorang mencari kuda yang hilang, yang pertama di telusuri adalah jejak tanda kaki kuda, kemudian memperhatikan suara ringkik kuda dan akhirnya di temukan kandang kuda dan yang terakhir dia menemukan wujud kuda yang sebenarnya ….Hal ini sebenarnya sangat menyulitkan para pelaku pencari Tuhan, … karena terlalu lama di dalam mengidentifikasi alam-alam yang akan di laluinya …. Dalil yang ke dua : adalah melangkah kepada yang paling dekat dari dirinya …yaitu Yang Maha Dekat, … langkah ini yang paling cepat di tempuh dibanding dalil pertama… Karena dalil pertama banyak dipengaruhi oleh para filosof pada jaman pertengahan dalam hal ini filsafat Yunani. Teologi Kristen dan Hindu telah banyak mempengaruhi filsafat ini. sehingga Al Ghazali gencar mengkritik kaum filosof dengan menulis kitab tentang tidak setujunya dengan ide filsafat masa itu yaitu Tahafut Al Falasifah / kerancuan filsafat …. Al-ghazali membantah pemikiran yang dimulai dengan rangkaian berfikir TERBALIK, … beliau mengajukan gagasan bahwa ummat islam harus memulai pemikirannya dari sumber pangkal ilmu pengetahuan yaitu Tuhan, BUKAN dimulai dari luar yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya, artinya sangat berbahaya karena di dalam filsafat memulai berfikirnya dari tahapan yang real menuju esensi dibalik semuanya berasal. Sedangkan di dalam Islam menunjukkan keadaan Tuhan serta jalan yang akan di tempuh sudah di tulis dalam Alqur’an agar ummat manusia tidak tersesat oleh rekaan-rekaan pikiran yang belum tentu kebenarannya… Pencarian kita telah di tulis dalam Alqur’an dan Allah menunjukkan jalannya dengan sangat sederhana dan mudah …tidak menunjukkan alam-alam yang mengakibatkan menjadi rancu dan bingung … karena alam-alam itu sangat banyak dan kemungkinan menyesatkan kita amat besar… Mari kita perhatikan cara Tuhan menunjukkan para hamba yang mencari Tuhannya . next
#52
(Dalil ini yang sangat populer dikalangan sufi, meditator , filosof, teolog)
2. Man `arafa rabbahu faqad `arafa nafsahu Barang siapa yang kenal Tuhannya pasti dia akan kenal dirinya. Pada jalan Pertama, biasanya di lakukan oleh para PENCARI MURNI, mereka belum memiliki panduan tentang tuhan dengan jelas. Dia hanya berfikir dari yang sangat sederhana …yaitu ketika ia melihat sebuah alam tergelar, muncul pemikiran pasti ada yang membuatnya atau ada yang berkuasa dibalik alam ini, … mustahil alam ini ada begitu saja … dan alam merupakan jejak-jejak penciptanya … Dengan filsafat inilah orang akhirnya menemukan kesimpulan bahwa Tuhan itu ada.
Sebagian meditator atau ahli sufi menggunakan pendekatan filsafat ini dalam mencari Tuhan, yaitu tahapan mengenal diri dari segi wilayah-wilayah alam pada dirinya, misalnya mengenali hatinya dan suasananya, pikiran, perasaannya, dan lain-lain sehingga dia bisa membedakan dari mana intuisi itu muncul, … apakah dari fikirannya, dari perasaannya, atau dari luar dirinya… Akan tetapi penggunaan jalur seperti ini sering kali membuat orang mudah tersesat, karena pada tahapan-tahapan wilayah ini manusia sering terjebak pada ‘kegaiban’ yang dia lihat dalam perjalanannya, … yang kadang-kadang membuat hatinya tertarik dan berhenti sampai disini, karena kalau tidak mempunyai tujuan yang kuat kepada Allah pastilah orang itu menghentikan perjalanannya …. Karena disana dia bisa melihat fenomena / keajaiban alam-alam dan mampu melihat dengan Kasyaf apa yang tersembunyi pada alam ini … akhirnya mudah muncul ‘keakuannya’ bahwa dirinyalah yang paling hebat …akan tetapi jika dia kuat terhadap Tuhan adalah tujuannya, pastilah dia selamat sampai tujuannya….. Teori yang dilakukan tersebut adalah jalan terbalik, karena dalam pencariannya ia telusuri jejak atau tanda-tanda yang ditinggalkannya (melalui ciptaan / alam),
… ibarat seseorang mencari kuda yang hilang, yang pertama di telusuri adalah jejak tanda kaki kuda, kemudian memperhatikan suara ringkik kuda dan akhirnya di temukan kandang kuda dan yang terakhir dia menemukan wujud kuda yang sebenarnya ….Hal ini sebenarnya sangat menyulitkan para pelaku pencari Tuhan, … karena terlalu lama di dalam mengidentifikasi alam-alam yang akan di laluinya
…. Dalil yang ke dua : adalah melangkah kepada yang paling dekat dari dirinya …yaitu Yang Maha Dekat, … langkah ini yang paling cepat di tempuh dibanding dalil pertama… Karena dalil pertama banyak dipengaruhi oleh para filosof pada jaman pertengahan dalam hal ini filsafat Yunani. Teologi Kristen dan Hindu telah banyak mempengaruhi filsafat ini. sehingga Al Ghazali gencar mengkritik kaum filosof dengan menulis kitab tentang tidak setujunya dengan ide filsafat masa itu yaitu Tahafut Al Falasifah / kerancuan filsafat …. Al-ghazali membantah pemikiran yang dimulai dengan rangkaian berfikir TERBALIK, … beliau mengajukan gagasan bahwa ummat islam harus memulai pemikirannya dari sumber pangkal ilmu pengetahuan yaitu Tuhan, BUKAN dimulai dari luar yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya, artinya sangat berbahaya karena di dalam filsafat memulai berfikirnya dari tahapan yang real menuju esensi dibalik semuanya berasal.
Sedangkan di dalam Islam menunjukkan keadaan Tuhan serta jalan yang akan di tempuh sudah di tulis dalam Alqur’an agar ummat manusia tidak tersesat oleh rekaan-rekaan pikiran yang belum tentu kebenarannya… Pencarian kita telah di tulis dalam Alqur’an dan Allah menunjukkan jalannya dengan sangat sederhana dan mudah …tidak menunjukkan alam-alam yang mengakibatkan menjadi rancu dan bingung … karena alam-alam itu sangat banyak dan kemungkinan menyesatkan kita amat besar… Mari kita perhatikan cara Tuhan menunjukkan para hamba yang mencari Tuhannya . “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perinta-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku,
#53agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186) “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan menusia dan mengetahui apa yang di bisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.” (QS. Al Qaaf: 16)
Ayat-ayat diatas, mengungkapkan keberadaan Allah sebagai wujud yang sangat dekat, dan kita diajak untuk memahami pernyataan tersebut secara utuh. Alqur’an mengungkapkan jawaban secara dimensional dan dilihat dari perspektif seluruh sisi pandangan manusia seutuhnya. Saat pertanyaan itu terlontar, dimanakah Allah ? Maka Allah menjawab: Aku ini dekat, kemudian jawaban meningkat sampai kepada, Aku lebih dekat dari urat leher kalian .atau dimana saja kalian menghadap di situ wujud wajah-Ku…dan Aku ini maha meliputi segala sesuatu …. Sebenarnya tidak ada alasan bagi kita jika dalam mencari tuhan melalui tahapan terbalik… Pada tahap pertama beliau nampak alam dan segala kejadian adalah satu bersama Allah SWT. dan pada tahap kedua nampak alam sebagai bayangan Allah; dan pada tahap ke tiga beliau nampak Allah SWT adalah berasingan dari pada segala sesuatu di alam ini. Kalau hal ini hanya sebatas penjelasan terstruktur kepada muridnya, saya anggap hal ini tidak menjadi persoalan, … akan tetapi jika tahapan-tahapan ini merupakan METODOLOGI dalam mencari tuhan, … saya kira ini BERBAHAYA, karena yang akan berjalan adalah fikirannya atau gagasannya, … yang akhirnya timbul khayalan atau halusinasi.
Di dalam islam memulainya dengan pengenalan kepada Allah terlebih dahulu yaitu dengan dzikrullah (mengingat Allah), … kemudian kita di perintah langsung mendekati-Nya, karena Allah sudah sangat dekat..tidak perlu anda mencari jauh-jauh melalui alam-alam yang amat luas dan membingungkan ..alam itu sangat banyak dan bertingkat-tingkat. Tidak perlu kita memikirkannya…cukupkan jiwa ini mendekat secara langsung kepada Allah … karena orang yang telah berjumpa alam-alam belum tentu ia tunduk kepada Allah, karena alam disana tidak ada bedanya dengan alam di dunia ini karena semua adalah ciptaan-Nya !! Akan tetapi jika anda memulai dengan cara mendekatkan diri kepada Allah, maka secara otomatis anda akan diperlihatkan / dipersaksikan kepada kerajaan Tuhan yang amat luas. Maka saya setuju dengan dalil yang KEDUA, barang siapa kenal TUHANNYA (ALLAH SWT)maka dia akan kenal dirinya. Sebab kalau kita kenal dengan pencipta-Nya, maka kita akan kenal dengan keadaan diri kita dan alam-alam dibawahnya, karena semua berada dalam genggaman-Nya…karena Dia meliputi segala sesuatu …karena Dia ada dimana saja kita ada, … dan Dia sangat dekat. dan bagi yang tidak kenal Alqur’an akan mudah sekali berhenti dan tersesat kepada alam-alam itu …karena intuisi itu amat banyak yang muncul dari segala suara alam-alam tersebut (Kesimpulan (buat my best Friend Josie Boleh Dong Kalo Saya Menyimpulkan, tapi jangan Diketawain ya: Islam mengajarkan didalam mencari tuhan, telah diberi jalan yang termudah dengan dalil barang siapa kenal Tuhannya maka dia akan kenal dirinya … hal ini telah ditunjukkan oleh Allah bahwa Allah itu sangat dekat, … atau dengan dalil …barang siapa yang sungguh-sungguh datang kepada Kami, pasti kami akan tunjukkan jalan-jalan Kami… (QS: Al ankabut: 69 ) “Wahai orang-orang yang beriman jika kamu bertakwa kepada Allah niscaya dia akan menjadikan bagimu furqan (pembeda).” (QS : Al Anfaal: 29) Ayat-ayat ini membuktikan di dalam mendekatkan diri kepada Allah tidak perlu lagi melalui proses pencarian atau menelusuri jalan-jalan yang di temukan oleh kaum filsafat atau ahli spiritual di luar islam, … karena mereka di dalam perjalanannya harus melalui tahapan-tahapan alam-alam … Islam di dalam menemuhi Tuhannya harus mampu memfanakan alam-alam selain Allah dengan konsep laa ilaha illallah … laa syai’un illallah … laa haula wala quwwata illa billah … tidak ada ilah kecuali Allah … tidak ada sesuatu (termasuk alam-alam) kecuali Allah, … tidak ada daya dan upaya kecuali kekuatan Allah semata
#54….maka berjalanlah atau melangkahlah kepada yang paling dekat dari kita terlebih dahulu bukan melangkah dari yang paling jauh dari diri kita ….
#55
Tentang Sedulur Papat kalimo pancer, merupakan ilustrasi dari pemahaman terhadap hubungan komponen diri terhadap Tuhan. sengaja diciptakan untuk memberi deskripsi tentang perjalanan ruhani manusia mencari Sang Maha Ada. hal tersebut bukan sekedar kita maknai saja pada tataran pemahaman istilah tetapi benar-benar harus kita dapati dan temukan jalan Mengenal Tuhan, agar bisa mengenal Tuhan.
Dari jaman dahulu kala manusia terus-menerus mendiskusikan tentang ketuhanan. Kenapa harus begitu? Tuhan tidak dapat dijangkau dengan akal. Jalani saja Agama Islam kita secara benar, mulai dari tataran Syariat, Tarikat tuk menuju Hakikat sampai Marifat. kalo ada keraguan ya cari saja sumber2 yg valid yang mutabarah..sholat istikharah jika perlu dilakukan setiap hari bada maghrib (maaf ini teknis) dan harus ada pada rel Iman, Islam, dan Ikhsan bagaimana caranya..Ya cari Ulama2 yang kredible terhadap ilmu ini, cari ilmu kepada Beliau..banyak kok kalo kita niat mencari, kalo sekedar hanya berteori ya selesai sampe pada kontepelasi..hehe (bukan nyalahin diskusi tapi tolong gali, ngaji diri, ngaji laku) buktikan sendiri apa sih sedulur papat kelima pancer itu. kalo dah tau pasti diem, ngglenggem dan mawas diri
#56
Pada Kidung dari Mas Adi, disebutkan bahwa “Saudara Empat” itu adalah Marmati, Kawah, Ari – ari (plasenta/ tembuni) dan Darah yang umumnya disebut Rahsa. Semua itu berpusat di Pusar yaitu berpusat di Bayi. Jelasnya mereka berpusat di setiap manusia. Mengapa disebut Marmati, kakang Kawah, Adhi Ari – Ari, dan Rahsa? Marmati itu artinya Samar Mati (Takut Mati)! Umumnya bila seorang ibu mengandung sehari hari pikirannya khawatir karena Samar Mati. Rasa khawatir tersebut hadir terlebih dahulu sebelum keluarnya Kawah (air ketuban), Ari – ari, dan Rahsa. Oleh karena itu Rasa Samar Mati itu lalu dianggap Sadulur Tuwa (Saudara Tua).
Perempuan yang hamil saat melahirkan, yang keluar terlebih dahulu adalah Air Kawah (Air Ketuban) sebelum lahir bayinya, dengan demikian Kawah lantas dianggap Sadulur Tuwa yang biasa disebut Kakang (kakak) Kawah. Bila kawah sudah lancar keluar, kemudian disusul dengan lahirnya si bayi, setelah itu barulah keluar Ari – ari (placenta/ tembuni).
Karena Ari – ari keluar setelah bayi lahir, ia disebut sebagai Sedulur Enom (Saudara Muda) dan disebut Adhi (adik) Ari-Ari. Setiap ada wanita yang melahirkan, tentu saja juga mengeluarkan Rah (Getih=darah) yang cukup banyak. Keluarnya Rah (Rahsa) ini juga pada waktu akhir, maka dari itu Rahsa itu juga dianggap Sedulur Enom. Puser (Tali pusat) itu umumnya gugur (Pupak) ketika bayi sudah berumur tujuh hari. Tali pusat yang copot dari pusar juga dianggap saudara si bayi. Pusar ini dianggap pusatnya Saudara Empat. Dari situlah muncul semboyan ‘Saudara Empat Lima Pusat’
#57
Pada “Kekayon” wayang kulit yang lumrah disebut “Gunungan” ada gambar Macan, Banteng, Monyet dan Burung Merak. Semua itu merupakan perwujudan Saudara Empat yang ada pada manusia.
Keempat hewan itu melambangkan empat macam nafsu yaitu: Macan melambangkan nafsu Amarah,
Banteng melambangkan nafsu Supiyah,
Monyet melambangkan nafsu Aluamah,
dan Burung Merak melambangkan nafsu Mutmainah SEDULUR PAPAT LIMA PANCER (Saudara Empat Lima Pusat) Mengambil dari Kitab Kidungan Purwajati tulisannya dimulai dari lagu Dhandanggula yang bunyinya sebagai berikut:
''Ana kidung ing kadang Marmati Amung tuwuh ing kuwasanira Nganakaken saciptane Kakang Kawah puniku Kang rumeksa ing awak mami Anekakake sedya Ing kuwasanipun Adhi Ari-Ari ingkang Memayungi laku kuwasanireki Angenakken pangarah Ponang Getih ing rahina wengi Ngrerewangi ulah kang kuwasa Andadekaken karsane Puser kuwasanipun Nguyu-uyu sabawa mami Nuruti ing panedha Kuwasanireku Jangkep kadang ingsun papat Kalimane wus dadi pancer sawiji Tunggal sawujud ingwang''.
Pada lagu diatas, disebutkan bahwa “Saudara Empat” itu adalah Marmati, Kawah, Ari – ari (plasenta/ tembuni) dan Darah yang umumnya disebut Rahsa. Semua itu berpusat di Pusar yaitu berpusat di Bayi. Jelasnya mereka berpusat di setiap manusia. Mengapa disebut Marmati, kakang Kawah, Adhi Ari – Ari, dan Rahsa? Marmati itu artinya Samar Mati (Takut Mati)! Umumnya bila seorang ibu mengandung sehari hari pikirannya khawatir karena Samar Mati. Rasa khawatir tersebut hadir terlebih dahulu sebelum keluarnya Kawah (air ketuban), Ari – ari, dan Rahsa. Oleh karena itu Rasa Samar Mati itu lalu dianggap Sadulur Tuwa (Saudara Tua). Perempuan yang hamil saat melahirkan, yang keluar terlebih dahulu adalah Air Kawah (Air Ketuban) sebelum lahir bayinya, dengan demikian Kawah lantas dianggap Sadulur Tuwa yang biasa disebut Kakang (kakak) Kawah. Bila kawah sudah lancar keluar, kemudian disusul dengan ahirnya si bayi, setelah itu barulah keluar Ari – ari (placenta/ tembuni). Karena Ari – ari keluar setelah bayi lahir, ia disebut sebagai Sedulur Enom (Saudara Muda) dan disebut Adhi (adik) Ari-Ari. Setiap ada wanita yang melahirkan, tentu saja juga mengeluarkan Rah (Getih=darah) yang cukup banyak. Keluarnya Rah (Rahsa) ini juga pada waktu akhir, maka dari itu Rahsa itu juga dianggap Sedulur Enom. Puser (Tali pusat) itu umumnya gugur (Pupak) ketika bayi sudah berumur tujuh hari. Tali pusat yang copot dari pusar juga dianggap saudara si bayi. Pusar ini dianggap pusatnya Saudara Empat. Dari situlah muncul semboyan ‘Saudara Empat Lima Pusat’ Keempat nafsu yang digambarkan oleh ke empat hewan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
Amarah : Bila manusia hanya mengutamakan nafsu amarah saja, tentu akan selalu merasa ingin menang sendiri dan selalu ribut/ bertengkar dan akhirnya akan kehilangan
kesabaran. Oleh karena itu, sabar adalah alat untuk mendekatkan diri dengan Allah SWT.
Supiyah / Keindahan : Manusia itu umumnya senang dengan hal hal yang bersifat keindahan misalnya wanita (asmara). Maka dari itu manusia yang terbenam dalam nafsu asmara/ berahi diibaratkan bisa membakar dunia.
Aluamah / Serakah : Manusia itu pada dasarnya memiliki rasa serakah dan aluamah. Maka dari itu, apabila nafsu tersebut tidak dikendalikan manusia bisa merasa ingin hidup makmur sampai tujuh turunan.
Mutmainah / Keutamaan : Walaupun nafsu ini merupakan keutamaan atau kebajikan, namun bila melebihi batas, tentu saja tetap tidak baik. Contohnya: memberi uang kepada orang yang kekurangan itu bagus, namun apabila memberikan semua uangnya sehingga kita sendiri menjadi kekurangan, jelas itu bukan hal yang baik. Maka dari itu, saudara empat harus diawasi dan diatur agar jangan sampai ngelantur. Manusia diuji agar jangan sampai kalah dengan keempat saudaranya yang lain, yaitu harus selalu menang atas mereka sehingga bisa mengatasinya. Kalau Manusia bisa dikalahkan oleh saudara empat ini, berarti hancurlah dunianya. Sebagai Pusat, manusia harus bisa menjadi pengawas dan menjadi patokan.
TOGING ANGGA, TANGGAP TANGGON TETUNGGU TAN TEGA TINGGAL HYANG TUNGGAL” artinya kurang lebih begini : TOGING ANGGA berarti sampainya perjalanan diri manusia TANGGAP berarti mengetahui, memahami, mengerti, TANGGON berarti pandai menyikapi tentang sesuatu hal yang diketahui TETUNGGU berarti menanti, menunggu TAN TEGA berarti tidak tega, tidak sampai hati TINGGAL berarti meninggalkan HYANG TUNGGAL berarti Sang Hyang Maha Tunggal / Gusti mungkin ada sanak kadang yang lebih paham ?? monggo
Tentang Sedulur Papat Kalima Pancer yang diruwat agar menjadi sempurna. Dicuplik dari cerita Wayang dalam Lakon Wahyu Makutha Rama. Pocapan / Jalan Cerita : Lah ing kana ta wau lagya mentar saking ngarsaning Raden Janaka; para repat panakawan catur, kantun sang apekik ingkang maksih mempeng muja samadhi mring Gusti kang akarya jagad, nedhengira sang Raden Permadi mesu brata kadadak rinubung para kadhange Begawan Kunta Wibisana sampun konus saking hangganing sang Begawan, dadya wudhar semedine sang apekik. Wawan Sabda / Percakapan :
KALA RANU : Hong tete Dewa rudra manik raja Dewaku, hanyah-hanyah para kadang, apa iki satriya ingkang bisa ngruwat sukertane dhewe.
KALA BANTALA : He, he, he, mbok menawa ora ana loro satriya ing jagad iki, ndak kira ya mung iki kang bakal nulungi awake dhewe sakadang.
KALA MARUTA : Saka pandugaku ya mung satriya iki kang bangkit ngruwat marang nirmalane dhewe,
KALA DAHANA : We lha dalah pancen ora sisp kakang Wibisana anggone paring pituduh marang awake dhewe, katitik satriya iki cahyane sumunu.
KALA RANU : Yen kaya mangkono ndak takonane dhisik sapa kekasihe satriya iki.
KALA BANTALA : Mangsa borong adhi.
KALA RANU : Teja-teja sulaksana, tejane wong kang anyar katon ngarep kang sinedya tigas kawuryanmu gus.
RADEN JANAKA : Raseksa yenta sira takon lawa aku, Raden Janaka kang dadi kekasihku, mbalik genti pitakon sapa kang dadi aranmu yaksa ?
KALA RANU : Raden bilih paduka mundhut priksa Kala Ranu ingkang dados nami kula.
RADEN JANAKA : Lha sing ana mburimu iku apa jenenge ?
KALA BANTALA : He, he, menawi paduka raden mundhut priksa dhateng nami kula Diyta Kala Bantala.
KALA MARUTA : He, he lha dalah menawi paduka Raden tatanya dhateng kula Kala Maruta ingkang dados nami kula Raden.
KALA DAHANA : We lha dalah, Kula Dahana menika nami kula Raden.
RADEN JANAKA : Ya jagad Dewa Bathara, lagi iki penjenenganingsun hanguningani ana raseksa padha katon alus solah bawane, heh raseksa banjur apa kang dadi sedyamu, dene sira padha mrepegi anggonku lagi mangsah yoga brata.
KALA RANU : Kula nuwun inggih raden estunipun kula sakadang menika, awit saking pitedhaipun Begawan Kunta Wibisana kinen nyuwun sanjata pitulung dhateng paduka Raden Janaka.
RADEN JANAKA : Mbanjur sira sakadang lagi nandhang pepeteng apa ?
KALA RANU : Waleh-waleh punapa raden keparenga paduka kersa angruwat dhateng nirmala kula sakadang, kanthi mekaten supados saged wangsul dhateng asal kamulan kula raden.
RADEN JANAKA : Raseksa aja ndadekake cuwaning atimu, sedyamu kang kaya mangkono ingsun ora bisa nuruti karepira.
KALA MARUTA : He, he, lha dalah Raden Janaka mbok inggiha keparenga welas dhateng kula sakadang raden, inggih namung paduka ingkang kula raos saged ngruwat dhateng sukertaning panandhang kula sakadang raden.
KALA BANTALA : Ho, ho, lha dalah oh inggih lajeng dhateng sinten malih kula sakadang saged uwal saking nirmala kula, menawi mboten saking paduka Raden Janaka. Awit inggih namung paduka satriya dharahing pangruwatan.
RADEN JANAKA : Sepisan maneh raseksa ingsun tan bangkit mituruti sedyanira kabeh.


  • Related Post



    Followers

     
    Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes